Tips Bijak Mengatasi Kebiasaan Anak Yang Suka Memukul

“Plok!” telapak tangan si kecil mendarat keras di lengan kanan temannya, karena kesal lantaran mobil balap favoritnya diambil temannya tanpa permisi. Memukul merupakan reaksi alami saat seseorang anak merasa kesal, marah, atau frustasi. Maka, tidak aneh jika di usia ini anak-anak sering saling pukul. Hal ini bisa dimaklumi karena: 1) Belum tahu bagaimana cara yang tepat mengekspresikan rasa marah atau kesal; 2) Mulai menyadari fungsi dan kekuatan tangannya. Dengan memukul, ia tahu reaksi lawannya; 3) Belum bisa bicara. Bicara adalah ekspresi verbal. Anak yang belum bisa bicara menggunakan bahasa tubuh untuk menyampaikan maksudnya; 4) Kelebihan energi dan tidak tahu cara menyalurkannya; 5) Tidak tahu akibat dari pukulannya terhadap korban.

Meski anak punya alasan untuk memukul, bukan berarti Anda mengizinkannya main pukul untuk mengekspresikan perasaan atau menyalurkan kelebihan energinya. Berikut ini, iniopiniku.com akan berbagi kepada Anda bagaimana cara bijak mengatasi kebiasaan anak yang suka main pukul:

1. Hindari Teriakan, “Jangan Pukul!” Teriakan Anda bukanlah cara yang tepat untuk melarang. Anda perlu bicara tegas, diikuti penjelasan, tapi bukan berteriak. Misalnya, “Nah, jangan pukul temannya, ya. Karena temanmu bisa sakit.” Dari cara ini, anak dapat mendengar pesan Anda dan mencerna penjelasan Anda tanpa perlu harus mendengar teriakan Anda.

2. Ganti Pukulan Dengan Kalimat. Ganti perilaku memukul dengan cara lain. Misalnya, ajarkan ia kata-kata seperti “Jangan ambil!”, “Ini punyakku!”, “Tidak Boleh!” atau “Pergi!”. Sehingga saat teman si kecil merebut mainan yang sedang dimainkan, ia dapat mengatakan kata-kata itu, sebagai bentuk pembelaan dirinya, bukan memukul.

3. Terapkan dan Konsisten Pada Aturan. Saat si kecil kembali memukul orang lain, Anda harus tetap tegas melarangnya. Konsistensi Anda akan melatih anak menjalani aturan. Bila sekali saja Anda membiarkan anak memukul temannya karena  ia dipukul, Anda gagal melatihnya. Si kecil bisa bingung dengan perarutan yang Anda buat, apakah dia boleh memukul atau tidak.

4. Berlakukan untuk Semua Orang. Minta orang di sekitar anak untuk mengikuti aturan yang Anda terapkan, seperti babu sitter, paman, bibi, nenek atau bahkan pasangan Anda sendiri. Ia akan belajar dari contoh. Bila orang lain di sekitarnya masih ada yang suka memukul, ia pun akan melakukannya.

5. Akui Perasaannya. Jadilah orang tua yang berempati pada perasaan si kecil. Jangan hanya memarahi perilakunya, tapi usahkan mengakui perasaan marah atau kesalnya. Anda bisa katakan, “Nak, kamu boleh kok marah karena mainnya direbut. Tapi, tidak perlu memukul teman. Nanti dia bisa sakit. Minta saja mainannya kembali.” Tujuannya, agar ia tidak ‘menekan’ rasa marah atau kekesalannya sendiri.

6. Salurkan Hobi Memukulnya. Cara ini berlaku untuk anak yang hobi memukul karena kelebihan energi. Coba salurkan dengan kegiatan seperti bermain drum, bermain tenis dengan raket mainan, atau memukul karung pasir khusus anak-anak. Bila si kecil sudah terpuaskan dengan kegiatan ini, kebiasaan memukul orang lain akan berkurang.

Selanjutnya, Anda juga perlu melakukan introspeksi diri, apabila Anda sering memilih pukulan untuk menghukum di kecil. Cobalah untuk menghilangkan kebiasaan ini, karena kebiasaan ini bisa berdampak negatif pada anak, diantaranya:

1. Memukul dapat menjadi kebiasaan Anda dan juga kebiasaan di kecil. Kebiasaan ini menanamkan perilaku agresif saat anak menangani konfliknya.

2. Memukul tidak akan mengurangi kebiasaannya memukul. Sebaliknya anak justru akan belajar bahwa boleh memukul bila orang lain salah.

3. Anak bisa tambah marah karena ia merasa tersakiti, baik secara fisik maupun psikis. Suatu saat ia akan membalas pukulan Anda.

4. Merendahkan martabat karena ia berada pada posisi tidak berdaya menghadapi sosok orang dewasa.

Anda Ingin Berlangganan Free-Artikel Dari iniopiniku.com?
Daftarkan e-mail Anda di bawah ini dan pastikan verifikasi melalui email Anda:

Delivered by FeedBurner


26. November 2012 by admin
Categories: Opini Tumbuh Kembang, Tips | Tags: , | Leave a comment