Memahami Apa Saja Hak-Hak Kita Sebagai Karyawan/Pegawai

Memang kepuasan bekerja tidak bisa diukur dari materi. Tapi, setidaknya kita harus tahu apa saja yang wajib diterima seorang karyawan/pegawai. Kalau imbalannya sesuai dengan tenaga yang sudah dilakukan, pasti kita makin semangat bekerja, bukan?

Nah, untuk mengenali apa saja hak-hak kita sebagai keryawan/pegawai, berikut ini iniopiniku.com berbagi Frequent Asked Question (FAQ) tentang hak-hak karyawan dengan merangkum beberapa hal-hal yang sering menjadi pertanyaan para karyawan/pegawai, berdasarkan penuturan konsultan karir, Andien Andiyasari:

1. Gaji Selama Masa Percobaan Hanya 80%? Jawaban: Salah. Tidak ada UU yang mengatur tentang upah dalam masa percobaan. Artinya karyawan dalam masa percobaan tetap berhak mendapat gaji penuh alias 100%. Perusahaan boleh saja menetapkan gaji dalam masa percobaan sebesar 80%, asalkan sebelumnya ada kesepakatan secara tertulis dari karyawan yang bersangkutan. Namun, jika tidak setuju, karyawan berhak menolak ketentuan tersebut sebelum menandatangani perjanjian. Jadi, bacalah baik-baik surat perjanjian sebelum menandatanganinya.

2. Karyawan Kontrak Harus Melalui Masa Percobaan? Jawaban: Tidak Benar. Sesuai peraturan UU, masa percobaan tidak berlaku alias tidak bisa diterapkan pada karyawan kontrak. Alasannya, masa percobaan kerja merupakan masa penilaian performa bagi karyawam baru untuk menentukan apakah dia layak diangkat menjadi karyawan tetap atau disingkirkan.  Jadi, sebenarnya karyawan kontrak tidak perlu menjalani masa percobaan. Perlu diketahui juga, bahwa maksimal masa percobaan kerja adalah 3 bulan, bukan 6 bulan, apalagi 1 tahun. Jika ada perusahaan yang mengharuskan kita menjalani masa percobaan lebih dari 3 bulan maka harus ada persetujuan dari kedua pihak secara tertulis.

3. Kapan Ya Naik Gaji? Jawaban: Soal kenaikan gaji tidak pernah tertera dalam peraturan UU. Pada umumnya perusahaan yang berkembang akan menaikkan gaji karyawannya sekali setiap tahun. Besaran atau skala kenaikan gaji juga tidak diatur dalam peraturan UU alias tergantung kebijakan perusahaan. Biasanya kenaikan mengikuti tingkat inflasi daerah. Namun, jika Anda sudah bekerja 5 tahun, tanpa pernah naik gaji, Anda wajib waspada. Lakukan analisis terhadap keadaan finansial perusahaan. Anda harus peduli dan memperhatikan perkembangan perusuhaan untuk mengetahui kesejahteraan dan masa depan karir.

4. Kapan Kita Berhak Menjadi Karyawan Tetap? Jawaban: Penentuan apakah kita akan menjadi karyawan tetap atau tidak merupakan keputusan perusahaan. Tapi, kita harus tahu, bahwa sesuai UU sebuah kontrak kerja hanya dapat diperpanjang 2 kali! Begini aturannya, masa kontrak pertama maksimal hanya boleh untuk 2 tahun. Kontrak boleh diperpanjang 1 kali, dengan maksimal waktu kontrak 1 tahun. Jika mengacu pada peraturan ini, maksimal kontrak kerja kita adalah 3 tahun. Bila setelah 3 tahun kita masih terus bekerja di perusahaan yang sama, otomatis kita harus diangkat sebagai karyawan tetap. Artinya, perusahaan tidak berhak terus menerus memperpanjang kontrak kerja. Jika perusahaan melakukan kesalahan dalam pelaksanaannya, secara otomatis kita berhak menjadi karyawan tetap.

5. Benarkan Kita (Wanita) Berhak Punya Hak Cuti Haid? Jawaban: Benar. Pertanyaan basic ini sering dilontarkan oleh karyawan perempuan. Selain cuti tahunan, cuti sakit, cuti bersalin, cuti hari raya, setiap karyawan perempuan juga berhak mendapat cuti haid seperti diatur dalam UU. Sayangnya, tidak semua perusahaan mensosialisasikan hak cuti ini dengan baik, justru seringkali melupakannya. Padahal untuk perempuan yang sedang mengalami sakit menjelang haid, cuti ini dapat diamanfaatkan tanpa harus memotong hak cuti tahunan kita. Sesuai UU, setiap karyawan perempuan berhak mendapatkan hak cui haid 1-2 hri. Jadi tidak perlu sungkan melapor jika memang membutuhkan.

6. Apakah Kita Mendapat Ganti Rugi Jika di-PHK Sebelum Kontrak Berakhir? Jawaban: Benar. Artinya, ada pemutusan hubungan kerja secara sepihak. Pihak yang memberhentikan karyawan sebelum waktu yang ditetapkan dalam perjanjian wajib membayar ganti kepada karyawannya. Sesuai aturan UU, besar ganti rugi yang berhak diterima karyawan yaitu sejumlah sisa waktu bekerja dikalikan upah/gaji perbulan. Misalnya, di perjanjian awal tertulis 2 tahun kontrak kerja, dengan gaji Rp 2.000.000/ bulan. Namun ternyata karyawan diberhentikan pada bulan ke-10, maka karyawan yang di-PHK berhak mendapat ganti rugi Rp 2.000.000 x 14 = Rp 28.000.000.

7. Pekerja Lepas dan Karyawan Baru Dapat THR Gak Ya? Jawaban: Pasti dapat! Hal ini diatur dalam Peraturan Menteri Tenaga Kerja Republik Indonesia, No. 04 Tahun 1994 tentang Tunjangan Hari Raya Keagamaan. Pasal 6 ayat 2 menyebutkan kalau pekerja dalam hubungan kerja untuk waktu tertentu berhak mendapatkan THR. Dalam hal ini, pekerja lepas digolongkan menjadi “pekerja dalam hubungan kerja untuk waktu tertentu”. Hak serupa juga berlaku bagi karyawan baru. Jika karyawan sudah bekerja selama 3 bulan terus menerus di sebuah perusahaan, perusahaan wajib memberikan THR kepada karyawan tersebut selama perusahaan dalam kondisi baik.

Anda Ingin Berlangganan Free-Artikel Dari iniopiniku.com?
Daftarkan e-mail Anda di bawah ini dan pastikan verifikasi melalui email Anda:

Delivered by FeedBurner


09. September 2012 by admin
Categories: Opini Karir | Tags: , , , , | Leave a comment

Leave a Reply

Required fields are marked *

*